Kamis, 20 Desember 2012

Jenis Alat Musik Tradisional Sulawesi Selatan

Jenis Alat Musik Tradisional Sulawesi Selatan

Peralatan instrumen musik tradisional Sulawesi Selatan bermacam-macam jenis dan fungsinya sehingga dapat diklasifikasikan menjadi 4 (empat) jenis alat instrumen musik tradisional, meliputi:


1. Jenis alat instrumen yang sumber bunyinya berasal dari kulit yang dibentangkan (membranofon) seperti  gendang, rebana dan sejenisnya. 
2. Jenis alat instrumen yang sumber bunyinya berasal dari udara (aerofon) seperti: suling, serunai, dan  sejenisnya. 
3. Jenis alat instrumen yang sumber bunyinya berasal dari alat itu sendiri (idiofon) seperti: gong, kennong,  dan kentongan. 
4. Jenis alat instrumen yang sumber bunyinya berasal dari dawai atau senar yang di bentangkan (kordofon) seperti: kecapi, rebab, dan gambus.


Jenis alat musik tersebut  tersebar pada 23 kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan, sebagai berikut:

  1. Kabupaten Gowa: gendang, puik-puik, gong, katto-katto, lesung (assung), rebab (keso-keso), kennong (kannong-kannong), gambus, kecapi, rebana, kancing, bulo sia-sia, dan berang-berang.
  2. Kabupaten Takalar: gendang, puik-puik, gong, katto-katto, lesung (assung), gambus, kecapi, rebana, mandaliung (mandolin), biola, suling toraya, genggong, keso-keso.
  3. Kabupaten Jeneponto: gendang, lesung (paddekko), gambus, rebana, mandolin (mandaliong).
  4. Kabupaten Bantaeng: gendang, lesung (paddekko), gambus, rebana, kalung-kalung tedong.
  5. Kabupaten Bulukkumba: gendang (ganrang poce dan ganrang tumpeng), basing, rebana, biola.
  6. Kabupaten Sinjai: suling, gendang, lesung, pauni, barrasa, ana’ backing, genggong, gamaru, jong.
  7. Kabupaten Barru: genrang riwakkang(gendang dipangku), mandaliung, gendang pencak, basing pasing, gambus, suling lontarak.
  8. Kabupaten Bone: genrang bajo, genrang sanro, genrang sinta, genrang bali, suling, katiting, genggong, genrang pangampi, mandaliung, gambus.
  9. Kabupaten pangkep: mandaliung, gendong-gendong, kecapi, gambus, genrang bulo, genrang ada’, genrang pamanca, lesung, biola.
  10. Kabupaten wajo: gandong-gandong, lea-lea, kancing-kancing, gong, genrang ba’wali, suling lampe, pitu-pitu, pani-pani, biola, katto-katto, palungeng(lesung), genrang tellu, genrang pamanca, paleppa, kecapi.
  11. Kabupaten soppeng: panoni, suling baliu, gambus, kecapi.
  12. Kabupaten Luwu Timur: bombonga (gong), singgala (gendang), ngge-ngge.
  13. Kabupaten Sidenreng Rappang: kecapi, suling bulatta, gendang, gong, gesong-kesong.
  14. Kotamadya Pare-Pare: kecapi, gendang bugis, marawis.
  15. Kabupaten Pinrang: genrang pamanca, kecapi.
  16. Kabupaten Selayar: gendang, billi-billi (serunai bamboo), gong, batti-batti, rabana.
  17. Kabupaten Maros: gendang, gong, ana’baccing, parappasa’(lea-lea), kannong-kannong(tawa-tawa).
  18. Kota Makassar: tanjidor, rebana, gendang, puik-puik, gong.
  19. Kabupaten Enrekang: musik bambu (pompang), baruttung.
  20. Kabupaten Toraja: gendang toraja, suling lembang.
  21. Kotamadya Palopo, kabupaten Luwu, dan kabupaten Luwu Utara: gendang, genrang ada, genrang biasa, suling.
  22. sumber: http://oldies-bugis-makassar.blogspot.com/2011/09/instrumen-musiktradisional-sulawesi.html

Alat Musik Tradisional Nusantara Sulawesi Selatan

Alat Musik Tradisional Nusantara Sulawesi Selatan


Kecapi


Kecapi merupakan alat musik petik yang berasal dari Sulawesi Selatan,
biasa digunakan sebagai pengiring suling atau dalam musik lengkap, sampai
saat ini masih terus dilestarikan dan dijadikan kekayaan seni yang sangat
bernilai bagi masyarakat asli Sulawesi Selatan.
Membutuhkan latihan khusus untuk dapat memainkan alat musik ini
dengan penuh penghayatan, tak jarang latihan dilakukan di alam terbuka agar
dapat menyatukan rasa dan jiwa sang pemetik Kacapi, lebih dari itu semua
suara yang dihasilkan dari alat musik ini akan menenangkan jiwa para
pendengarnya, dan mampu membawa suasana alam Pasundan di tengahtengah
pendengar yang mulai terhanyut dengan buaian nada-nada yang indah
dari Kacapi
.

Keso


Keso Adalah alat musik yang mirip seperti rebab hanya saja keso
menggunakan dua dawai saja. Alat musik ini dimainkan dengan cara digesek.

Gendang

Kendang, kendhang, atau gendang adalah alat musik yang
dimainkan dengan cara di tepuk.

sumber:  http://wirawandwilazuardy.blogspot.com/2010/11/sulawesi-utara.html

Pakaian Tradisional Pria Makassar

Pakaian Tradisional Pria Makassar



Disetiap wilayah di Indonesia pastilah memiliki budaya tradisional masing-masing, antara satu wilayah dan lainnya memiliki adat dan tradisi yang berbeda beda. begitu pula dengan adat dan tradisi di wilayah Sulawesi Selatan khususnya Makassar. Didalam kebudayaan Makassar Busana adat tradisional adalah salah satu aspek yang sangat penting, karena tidak hanya berfunsi sebagai penghias tubuh pemakainya tetapi juga merupakan suatu kelengkapan dalam upacara-upacara adat di Makassar. Yang dimaksud dengan busana adat disini adalah pakaian adat berserta aksesori-aksesori pelengkap yang digunakan dalam berbagai upacara-upacara adat baik itu berupa perkawinan, penjemputan tamu kehormatan, atau hari-hari besar adat lainnya, seperti upacara Accera Kalompoang adat Kerajaan Gowa. Pada dasarnya keberadaan dan pemakaian busana adat pada upacara-upacara adat tertentu akan melambangkan keagungan upacara-upacara adat tersebut.
Melihat kebiasaan-kebiasaan masyarakat Makassar dalam mengenakan busana adat, sebenarnya terlihat kemiripan dengan busana adat yang biasa dipakai oleh orang-orang Bugis. Walaupun demikian ada sedikit perbedaaan dan ciri-ciri khusus baik itu dari corak pakaian maupun bentuk dari pakaian adata itu.


Pada jaman dahulu busana adat yang dikenakan oleh orang Makassar dapat menunjukkan status pernikahan bahkan juga status sosial dari pemakainya di dalam masyarakat. Hal itu dikarenakan didalam strata sosial masyarakat Makassar terbagi atas tiga lapisan sosial, yaitu Ono Karaeng yakni lapisan strata sosial yang ditempati oleh kerabat Raja dan bangsawan, Tu Maradeka yaitu lapisan orang merdeka atau masyarakat kebanyakan dan yang ketiga adalah Ata atau golongan para budak yakni lapisan orang-orang yang kalah dalam peperangan, tidak mampu membayar utang dan yang melanggar adat istiadat. Namun pada masa sekarang ini busana yang dipakai tidak lagi menunjukkan status sosial kedudukan seseorang.

Sementara itu, busana adat tradisional Makassar juga terbagi atas jenis kelamin para pemakainya. busana adat kaum pria tentulah berbeda dengan busana adat kaum wanita, masing-masing busana adat itu memiliki karasteristik tersendiri. Busana adat pria dengan Baju Bella' dan Jas Tutu'nya  sedangkan Kaum wanita mengenakan Baju Bodo  dan Baju Labbu.

Pakaian adat pria Makassar terdiri atas Baju, celan atau Paroci, kain sarung atau Lipa' Garusu' dan tutup kepala atau  Passapu'. Baju yang dikenakan pada bagian atas berbentuk jas tutup dan baju belah dada. Model baju yang tampak adalah berlengan panjang dengan leher berkerah dan saku baju terletak dikanan dan kiri baju serta dibubuhi kancing yang terbuat dari warna emas atau perak dan dipasang pada leher baju. Model tersebut sama untuk kedua jenis baju adat pria Makassar baik untuk Baju Bella dan Jas Tutu', perbedaan hanya terlihat pada warna dan bahan yang digunakan Bahan untuk Jas Tutu' biasanya tebal dan berwarna gelap biru atau coklat tua, sedangkan untuk Baju Bella' terbuat dari bahan yang lebih tipis, yaitu berasal dari kain Lipa' Sa'be  atau Lipa Garusu' yang polos, warna terang dan mencolok mendominasi pakaian ini seperti merah dan hijau.

Khusus untuk hiasan kepala atau tutup kepala (Songko') bahan yang biasa digunakan berasal dari kain Passapu' yang terbuat dari serat daun lontar yang diayam. Tutup kepala pria Makassar yang berhias benang ems disebut Mbiring dan yang tidak berhiaskan benang emas disebut Passapu' Guru. Biasaynya yang mengenakan passapu' Guru adalah mereka yang berstatus sebagai guru mengaji dikampung. Pemakaian tutup kepala pada busana pria mempunyai makna-makna dan simbol-simbol tertentu yang melambangkan satus sosial pemakainya.

Kelengkapan busana adat pria Makassar sebagai aksesori pakaian adat adalah Badik, gelang, Salempang atau Rante Sembang, Passapu' Embara', dan hiasan Pada tutup kepala atau Sigara'. Badik yang selalu digunakan ialah badik  denang kepala dan sarung terbuat dari emas yang dikenal dengan sebutan Passatimpo atau Tatapareng, Jenis Badik ini adalah benda pusaka yang dikeramatkan oleh pemiliknya.bahkan dapat digantungi sejenis jimat yang disebut maili. Agar Badik tidak mudah lepas dan tetap pada tempatnya, maka diberi pengikat yang disebut Talibannang. Adapun gelang yang menjadi perhiasan para pria Makasar, biasanya berbentuk ular naga dan terbuat dari emas atau disebut Ponto Naga. Gambaran busana adat pria Makasar lengkap dengan semua jenis perhiasan seperti itu, tampak jelas pada seorang pria yang sedang melangsungkan upacara pernikahan. Lebih tepatnya dikenakan sebagai busana pengantin pria.

Sumber
 http://lobelobenamakassar.blogspot.com/2012/01/pakaian-tradisional-pria-makassar.html#ixzz2Fe2QUOfm
http://lobelobenamakassar.blogspot.com/2012/01/pakaian-tradisional-pria-makassar.html

Suku di Sulawesi Selatan

Suku di Sulawesi Selatan


Suku makassar
                                                     
2.kostum dan aksesoris
Menarik sekali melihat ragam corak pakaian adat suku Bugis dan Makassar. Warna - warnanya cerah. Merah, kuning, hijau dan ungu adalah warna yang paling sering mendominasi pakaian adat suku ini. Bentuknya pun unik menyerupai baju kurung.
Baju Bodo
Baju bodo adalah pakaian adat suku Bugis dan Makassar. Bodo artinya pendek. Jadi baju bodo artinya baju pendek. Tentu saja ada juga baju panjang atau baju la’bu, tapi jenis baju ini kurang dikenal.
Dinamakan baju bodo atau baju pendek karena panjangnya hanya mencapai sedikit di bawah pinggang. Sedangkan panjang baju la’bu atau baju panjang mencapai lutut pemakai.
Walaupun potongan baju bodo mirip dengan baju kurung, tapi tentu saja berbeda. Baju bodo bisa dikatakan minim jahitan. Baju ini hanya menyatukan bagian kiri dan bagian kanan baju. Pada bagian leher tidak terdapat kerah baju seperti baju kurung.
Jaman dahulu, pemakaian warna baju bodo tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada aturan tertentu mengenai hal tersebut. Misalnya baju bodo berwarna hijau hanya boleh dikenakan para wanita bangsawan. Baju berwarna merah untuk anak gadis. Sedangkan wanita yang telah menjanda diharuskan mengenakan baju bodo berwarna ungu. Tentu saja aturan semacam ini kini tidak berlaku lagi.
Lipa’ Sa’be
Lipa’ sa’be adalah pakaian adat suku Bugis lainnya. Lipa’ sa’be adalah sarung sutra yang biasa digunakan sebagai bawahan baju bodo’. Motif lipa’ sa’be kotak-kotak dengan warna-warni cerah.
Pemakai kedua pakaian adat suku Bugis ini biasanya akan memadupadankan warna yang sesuai antara baju bodo dan lipa’ sa’be. Memakainya pun sangat mudah.
Lipa’ sa’be digunakan layaknya menggunakan sarung. Untuk membantu agar tidak melorot ketika digunakan, pemakai biasanya menggunakan tali atau ikat pinggang. Salah satu ujungnya dibiarkan menjuntai dan dipegang dengan tangan sebagai aksen pemanis. Khusus untuk penari, ujung sarung diletakkan di bagian punggung dan dibentuk menyerupai kipas.
Lipa’ sa’be tidak hanya digunakan kaum wanita Bugis. Kaum pria pun menggunakannya. Motif kotak lipa’ sa’be pria biasanya lebih besar. Kaum pria memadupadankan lipa’ sa’be dengan atasan model jas atau sejenis beskap. 
Aksesoris
Dalam tradisi pakaian adat suku Bugis juga mengenal pemakaian aksesoris. Aksesoris digunakan untuk melengkapi baju bodo dan lipa’ sa’be yang digunakan. Bila jaman dulu aksesoris terbuat dari emas, jaman sekarang berupa sepuhan warna keemasan.
Beberapa aksesoris yang digunakan antara lain gelang panjang, kalung, anting panjang, gelang lengan atas, bando atau hiasan konde. Bentuk dan jenis perhiasan yang digunakan juga memiliki aturan tersendiri. Misalnya seorang anak kecil mengenakan bando berbentuk kembang goyang di atas kepala. Sementara untuk seorang ibu cukup dengan 1 atau 2 tusuk konde sebagai hiasan di kepala.
Indonesia memang memiliki keanekaragaman adat dan budaya yang beragam. Salah satu diantaranya adalah pakaian adat suku Bugis dan Makassar. Bahkan tak jarang baju bodo dijadikan inspirasi oleh para desainer. Demikian pula penggunaan sarung sutra yang dulu dikenakan hanya untuk bawahan berupa sarung saja. Namun kini para desainer mengolahnya menjadi pakaian-pakaian indah nan menawan.
3.upacara upacara adat
 Adat Perkawinan
Tata cara upacara adat Makassar dalam acara perkawinan sejatinya memiliki beberapa proses atau tahapan upacara adat, antara lain:
A’jangang-jangang (Ma’manu’-manu’).
A’suro (Massuro) atau melamar.
A’pa’nassar (Patenreada’) atau menentukan hari.
A’panaiLeko’ Lompo (erang-erang) atau sirih pinang.
A’barumbung (Mappesau) atau mandi uap, dilakukan selama 3 (tiga) hari.
Appassili bunting (Cemmemappepaccing) atau siraman dan A’bubbu’ ( mencukur rambut halus dari calon mempelai).
Akkorontigi (Mappacci) atau malam pacar.
Assimorong atau akadnikah.
Allekka’ bunting (Marolla) atau mundumantu.
Appa’bajikang bunting atau menyatukan kedua mempelai.

Upacara tradisional tersebut di atas masih memiliki uraian-uraian yang lebih detail dari masing-masing tahapan atau proses. Pada kesempatan ini akan diuraikan tentang tata cara upacara adat:
1. Appassili bunting (Cemmemappepaccing) danA’bubbu’.
2. A’korontigi (Mappacci).
3. Appanai’ LekoLompo (Erang-erang) atausirihpinang, danAssimorong (AkadNikah)
Appassili bunting (Cemmemappepaccing), A’bubbu’ danAppakanre Bunting

Kegiatan dalam tata cara atau prosesi upacara adat ini terdiri dari:

Appassili bunting.
Persiapan sebelum acara ini adalah calon mempelai dibuatkan tempat khusus berupa gubuk siraman yang telah ditata sedemikian rupa di depan rumah atau pada tempat yang telah disepakati bersama oleh anggota keluarga.
Acara dilakukan sekitar pukul 09.00 – 10.00 waktu setempat. Pelaksanaan acara pada jam tersebut memiliki niat atau maksud. Calon mempelai memakai busana yang baru/baik dan ditata sedemikian rupa.
Appassili atau Cemme Mappepaccing mengandung arti membersihkan dengan maksud agar calon mempelai senantiasa diberi perlindungan dan dijauhkan dari mara bahaya oleh Allah SWT.


Prosesi Acara Appassili:
Sebelum dimandikan, calon mempelai terlebih dahulu memohon doa restu kepada kedua orang tua di dalam kamar atau di depan pelaminan. Kemudian calon mempelai akan diantarkan ke tempat siraman di bawah naungan payung berbentuk segi empat (Lellu) yang dipegang oleh 4 (empat) orang gadis bila calon mempelai wanita dan 4 (empat) orang laki-laki jika calon mempelai pria. Setelah tiba di tempat siraman, prosesi dimulai dengan diawali oleh Anrong Bunting, setelah selesai dilanjutkan oleh kedua orang tua serta orang-orang yang dituakan (To’malabbiritta) yang berjumlah tujuh atau sembilan pasang.
Tata cara pelaksanaan siraman adalah air dari pammaja/gentong yang telah dicampur dengan 7 (tujuh) macam bunga dituangkan ke atas bahu kanan kemudian ke bahu kiri calon mempelai dan terakhir di punggung, disertai dengan doa dari masing-masing figure yang diberi mandat untuk memandikan calon mempelai. Setelah keseluruhan selesai, acara siraman diakhiri oleh Ayahanda yang memandu calon mempelai mengambil air wudhu dan mengucapakan dua kalimat syahadat sebanyak tiga kali. Selanjutnya calon mempelai menuju ke kamar untuk berganti pakaian.

A’bubbu’ (Macceko).
Setelah berganti pakaian, calon mempelai selanjutnya didudukkan di depan pelaminan dengan berbusana Baju bodo, tope (sarung pengantin) atau lipa’ sabbe, serta assesories lainnya. ProsesiacaraA’bubbu (macceko) dimulaidenganmembersihkanrambutataubulu-bulu halus yang terdapat di ubun-ubun atau alis.
Appakanre bunting.
Appakanre bunting artinya menyuapi calon mempelai dengan makan berupa kue-kue khas
tradisional bugis makassar, seperti Bayao nibalu, Cucuru’ bayao, Sirikaya,
Onde-onde/Umba-umba, Bolu peca, dan lain-lain yang telah disiapkan dan ditempatkan
dalam suatu wadah besar yang disebut bosara lompo.
2. Akkorontigi (Mappacci).

Rumah calon mempelai telah ditata dan dihiasi sedemikian rupa dengan dekorasi khas daerah bugis makassar, yang terdiri dari:

a.Pelaminan (Lamming)
b.Lila-lila
c.Meja Oshin lengkap dengan bosara.
d.Perlengkapan Korontigi/Mappacci.

Acara Akkorontigi/Mappacci merupakan suatu rangkaian acara yang sakral yang dihadiri oleh seluruh sanak keluarga (famili) dan undangan.
Acara Akkorontigi memiliki hikmah yang mendalam, mempunyai nilai dan arti kesucian dan kebersihan lahir dan batin, dengan harapan agar calon mempelai senantiasa bersih dan suci dalam menghadapi hari esok yaitu hari pernikahannya.
Prosesi acara Akkorontigi/Mappacci:
Setelah para undangan lengkap dimana sanak keluarga atau para undangan yang telah dimandatkan untuk meletakkan pacci telah tiba, acara dimulai dengan pembacaan barzanji atau shalawat nabi, setelah petugas barzanji berdiri, maka prosesi peletakan pacci dimulai oleh Anrong bunting yang kemudian diikuti oleh sanak keluarga dan para undangan yang telah diberi tugas untuk meletakkan pacci. Satu persatu para handai taulan dan undangan dipanggil didampingi oleh gadis-gadis pembawa lilin yang menjemput mereka dan memandu menuju pelaminan. Acara Akkorontigi/Mappacci ini diakhiri dengan peletakan pacci oleh kedua orang tua tercinta dan ditutup dengan doa.
3. Appanai’ LekoLompo (Erang-erang) atausirihpinang, danAssimorong
(AkadNikah)
Kegiatan ini dilakukan di kediaman calon mempelai wanita, dimana rumah telah ditata dengan indahnya karena akan menerima tamu-tamu kehormatan dan melaksanakan prosesi acara yang sangat bersejarah yaitu pernikahan kedua calon mempelai. 
Beberapa persiapan yang dilakukan oleh kedua belah pihak keluarga:

Keluarga Calon Mempelai Wanita (CPW).
Dua pasang sesepuh untuk menjemput CPP dan memegang Lola menuntun CPP memasuki rumah CPW.
Seorangibu yang bertugasmenaburkanBente (benno) ke CPP saatmemasukigerbangkediaman CPW.
Penerima erang-erang atau seserahan.
Penerima tamu.

Keluarga Calon Mempelai Pria (CPP).

- Petugas pembawa leko’ lompo (seserahan/erang-erang), yang terdiri dari:
Gadis-gadis berbaju bodo 12 orang yang bertugas membawa bosara atau keranjang yang berisikan kue-kue dan busana serta kelengkapan assesories CPW.
Petugas pembawa panca terdiri dari 4 orang laki-laki. Panca berisikan 1 tandankelapa, 1 tandanpisang raja, 1 tandanbuahlontara, 1 buahlabukuningbesar, 1 buah nangka, 7 batang tebu, jeruk seperlunya, buah nenas seperlunya, dan lain-lain.
- Perangkat adat, yang terdiri dari:
Seorang laki-laki pembawa tombak.
Anak-anak kecil pembawa ceret 3 orang.
Seorang lelaki dewasa pembawa sundrang (mahar).
Remaja pria 4 orang untuk membawa Lellu (payung persegi empat).
Seorang anak laki-laki bertugas sebagai passappi bunting.

- Calon mempelai Pria
- Rombongan orang tua
- Rombangan saudara kandung
- Rombongan sanak keluarga
- Rombongan undangan.

Prosesi acara Assimorong:
Setelah CPP beserta rombongan tiba di sekitar kediaman CPP, seluruh rombongan diatur sesuai susunan barisan yang telah ditetapkan. Ketika CPP telah siap di bawa Lellu sesepuh dari pihak CPW datang menjemput dengan mengapit CPP dan menggunakan Lola menuntun CPP menuju gerbang kediaman CPW. Saat tiba di gerbang halaman, CPP disiram dengan Bente/Benno oleh salah seorang sesepuh dari keluarga CPW. Kemudian dilanjutkan dengan dialog serah terima pengantin dan penyerahan seserahan leko lompo atau erang-erang. Setelah itu CPP beserta rombongan memasuki kediaman CPW untuk dinikahkan. Kemudian dilakukan pemeriksaan berkas oleh petugas KUA dan permohonan ijin CPW kepada kedua orang tua untuk dinikahkan, yang selanjutnya dilakukan dengan prosesi Ijab dan Qobul. 
Setelah acara akad nikah dilaksanakan, mempelai pria menuju ke kamar mempelai wanita, dan berlangsung prosesi acara ketuk pintu, yang dilanjutkan dengan appadongko nikkah/mappasikarawa, penyerahan mahar atau mas kawin dari mempelai pria kepada mempelai wanita. Setelah itu kedua mempelai menuju ke depan pelaminan untuk melakukan prosesi Appla’popporo atau sungkeman kepada kedua orang tua dan sanak keluarga lainnya, yang kemudian dilanjutkan dengan acara pemasangan cincin kawin, nasehat perkawinan, dan doa.
B. Adat Kelahiran
Upacara Daur Hidup (Inisiasi)
Masa kehamilan utamanya pada kehamilan pertama pada suatu keluarga merupakan suatu waktu yang penuh perhatian keluarga kedua belah pihak.
Masa kehamilan pada bulan pertama sampai dengan bulan keempat disebut angngirang. Dalam masa ini muncul keaneh-anehan bagi calon ibu, baik dalam tingkah laku maupun dalam keingin-inginannya. Kedua belah keluarga berusaha memenuhi keinginan calon ibu tersebut terutama yang berupa makanan. Apabila keinginan-keinginan itu tidak dipenuhi akan berakibat tidak baik bagi bakal bayi yang akan dilahirkan. Selama masa kehamilan berlaku pantangan-pantangan bagi si calon ibu, maupun si calon ayah.
Setelah perut calon ibu mulai nampak, maka sepakatlah keluarga kedua belah pihak untuk memanggil dukun yang disebut annaggala sanro. Adapun yang dipanggil, ialah dukun turun-temurun dari keluarga. Memanggil dukun (annaggala sanro) ialah dengan mengantarkan bosarak yang berisi ikatan-ikatan daun sirih, pinang, dan uang  (logam).
Apabila kandungan telah berusia tujuh bulan, maka diadakan upacara anynyapu battang/appakaddok mengngirang yang diebut juga appasilli. Pada upacara ini kedua belah pihak dari keluarga mengadakan macam-macam panganan, di antaranya terdapat kanre jawa picuru (makanan yang mempunyai arti simbolis), serta tidak ketinggalan buah-buahan.
Acara pertama dalam upacara ini, ialah memandikan calon ibu dengan suaminya  (nipassilli) dengan maksud untuk menjaga calon ibu maupun bayi yang akan lahir, dengan mengusir dan menolak pengaruh-pengaruh jahan. Selesai mandi calon ibu dan bapak berpakaian adat, rapih, dan bagus kemudian bersanding menghadapi hidangan yang disediakan dan dikerumuni oleh sanak suami istri tersebut disuruh memilih dari salah satu macam penganan yang tersedia, dengan ketentuan mengambil makanan yang sangat diinginkannya. Dari  penganan yang diambil, dapat diramal jenis kelamin bayi yang akan dilahirkan.
Setelah ada tanda-tand bayi akan lahir, keluarga kedua belah menunggui bersama sang dukun. Menjelang bayi akan lahir, biasanya calon ibu mudah pallammori dengan tujuan agar si calon ibu mudah melahirkan.
Sesudah bayi lahir, maka bayi bersama plasentanya diletakkan di atas kapparak, lalu sang dukun memotong plasenta bayi tersebut. Plasenta kemudian dibersihkan, lalu dimasukkan ke dalam periuk tanah bersama
4.rumah adat
 Balla lompoa adalah rumah adat Makassar/Gowa, Sulawesi Selatan, Indonesia. Sebelum dialihfungsikan sebagai Museum Balla Lompoa, rumah ini dulunya merupakan sebuah istanah yang dibangun pada tahun 1936 oleh Raja ke-35 yaitu Andi Mangimangi yang berkuasa pada tahun 1906-1946. Sekarang tempat ini juga berfungsi sebagai objek wisata sejarah yang menarik untuk dikunjungi.
5.daerah yang meliputi suku makassar
Suku Makassar mendiami daerah Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, dan Bantaeng. Suku Makassar memakai bahasa Makassar dan jika kita telusuri sejarahnya, kita akan berujung pada sejarah kebesaran Kerajaan Gowa.

Terdapat beberapa daerah yang merupakan bauran antara suku Bugis dan Makassar: Pangkajene-Kepulauan (Pangkep), Maros, dan Bulukumba.
Suku mandar
2.kostum dan aksesoris
Setiap pakaian adat suku Mandar tidak lepas dari lipa saqbe. Disamping adalah foto contoh pakaian adat suku Mandar dengan menggunakan sarung khas mandar yaitu lipa saqbe (nama lipa saqbe yang digunakan adalah Sure' Padzadza).
Lipa Saqbe Mandar (Sarung Sutra Mandar) sepintas memiliki persamaan dengan kain sutra daerah lain, tapi di setiap jenis dan nama Lipa Saqbe Mandar memiliki ciri khas khusus yakni dari segi corak (sure' ataupun bunga) dan cara pembuatannya, yang membuatnya terkenal ke daerah sekitarnya (bugis dan makassar).
Posisi coraknya itu tidak sembarangan, karena penciptaan motif (sure' ataupun bunga) punya peruntukan masing-masing berdasarkan standar ekonomi, sosial budaya, agama, dan juga strata sosial seseorang.
Saat ini terdapat 2 jenis Lipa Sa'be bila ditinjau dari motifnya yaitu Sure dan Bunga. Perbedaannya, Sure' yaitu lipa sa'be yang merupakan motif asli dari sarung sutra mandar, ciri-cirinya tidak memiliki hiasan/bunga yang membuatnya mencolok. Sedangkan Bunga yaitu lipa sa'be yang memiliki motif dan hiasan berupa bunga ataupun lainnya, yang merupakan turunan dari sure agar lipa sa'be tampak lebih cantik.
3.upacara adat
A. Selayang Pandang
Sayyang Pattudu (kuda menari), begitulah masyarakat suku Mandar, Sulawesi Barat menyebut acara yang diadakan dalam rangka untuk mensyukuri anak-anak yang khatam (tamat) Al-Qur‘an. Bagi warga suku Mandar, tamatnya anak-anak mereka membaca 30 juz Al-Quran merupakan sesuatu yang sangat istimewa, sehingga perlu disyukuri secara khusus dengan mengadakan pesta adat Sayyang Pattudu. Pesta ini biasanya digelar sekali dalam setahun, bertepatan dengan bulan Maulid/Rabi‘ul Awwal (kalender Hijriyah). Pesta tersebut menampilkan atraksi kuda berhias yang menari sembari ditunggangi anak-anak yang mengikuti acara tersebut.
Bagi masyarakat Mandar, khatam Al-Qur‘an dan acara adat Sayyang Pattudu memiliki pertalian erat antara satu dengan lainnya. Acara ini tetap mereka lestarikan dengan baik, bahkan masyarakat suku Mandar yang berdiam di luar Sulawesi Barat dengan sukarela akan kembali ke kampung halamannya demi mengikuti acara tersebut. Penyelenggaran pesta adat ini sudah berlangsung cukup lama, tetapi tidak ada yang tahu pasti kapan pertama kali dilaksanakan. Jejak sejarah yang menunjukkan awal pelaksanaan kegiatan sampai sekarang juga belum terdeteksi oleh para sejarawan dan tokoh masyarakat.
4. Rumah adat suku Mandar disebut boyang.
5. Suku Mandar mendiami daerah Mamuju, Majene, Pasangkayu yang sekarang memisahkan diri membentuk Sulawesi Barat. Termasuk daerah Polmas, juga sudah bergabung ke dalam wilayah Sulbar. Suku Mandar memakai bahasaMandar
Suku toraja
2.kostum dan aksesoris
Pakaian adat dan tarian - Baju adat Toraja disebut BajuPokko' untuk wanita dan seppa tallung buku untuk laki-laki. Baju Pokko' berupa baju dengan lengan yang pendek.Sedangkan seppa tallung buku berupa celana yangpanjangnya sampai dilutut.Pakaian ini masih dilengkapi dengan asesoris lain, sepertikandaure, lipa', gayang dan sebagainya
3.upacara adat
Di wilayah  Kab . Tana Toraja terdapat dua upacara adat yang amat terkenal , yaitu upacara adat Rambu Solo’ (upacara untuk pemakaman) dengan acara Sapu Randanan, dan Tombi Saratu’, serta Ma’nene’, dan upacara adat Rambu Tuka. Upacara-upacara adat tersebut di atas baik Rambu Tuka’ maupun Rambu Solo’ diikuti oleh seni tari dan seni musik khas Toraja yang bermacam-macam ragamnya.
Rambu Solo
Adalah sebuah upacara pemakaman secara adat yang mewajibkan keluarga yang almarhum membuat sebuah pesta sebagai tanda penghormatan terakhir pada mendiang yang telah pergi.
Tingkatan Upacara Rambu Solo
Upacara Rambu Solo terbagi dalam beberapa tingkatan yang mengacu pada strata sosial masyarakat Toraja, yakni:
Dipasang Bongi: Upacara pemakaman yang hanya dilaksanakan dalam satu malam saja.
Dipatallung Bongi: Upacara pemakaman yang berlangsung selama tiga malam dan dilaksanakan dirumah almarhum serta dilakukan pemotongan hewan.
Dipalimang Bongi: Upacara pemakaman yang berlangsung selama lima malam dan dilaksanakan disekitar rumah almarhum serta dilakukan pemotongan hewan.
Dipapitung Bongi:Upacara pemakaman yang berlangsung selama tujuh malam yang pada setiap harinya dilakukan pemotongan hewan.
Upacara tertinggi
Biasanya upacara tertinggi dilaksanakan dua kali dengan rentang waktu sekurang kurangnya setahun, upacara yang pertama disebut Aluk Pia biasanya dalam pelaksanaannya bertempat disekitar Tongkonan keluarga yang berduka, sedangkan Upacara kedua yakni upacara Rante biasanya dilaksanakan disebuah lapangan khusus karena upacara yang menjadi puncak dari prosesi pemakaman ini biasanya ditemui berbagai ritual adat yang harus dijalani, seperti : Ma’tundan, Ma’balun (membungkus jenazah), Ma’roto (membubuhkan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah), Ma’Parokko Alang (menurunkan jenazah kelumbung untuk disemayamkan), dan yang terkahir Ma’Palao (yakni mengusung jenazah ketempat peristirahatan yang terakhir).
Upacara Adat Rambu Tuka
Upacara adat Rambu Tuka’ adalah acara yang berhungan dengan acara syukuran misalnya acara pernikahan, syukuran panen dan peresmian rumah adat/tongkonan yang baru, atau yang selesai direnovasi; menghadirkan semua rumpun keluarga, dari acara ini membuat ikatan kekeluargaan di Tana Toraja sangat kuat semua Upacara tersebut dikenal dengan nama Ma’Bua’, Meroek, atau Mangrara Banua Sura’.
Untuk upacara adat Rambu Tuka’ diikuti oleh seni tari : Pa’ Gellu, Pa’ Boneballa, Gellu Tungga’, Ondo Samalele, Pa’Dao Bulan, Pa’Burake, Memanna, Maluya, Pa’Tirra’, Panimbong dan lain-lain. Untuk seni musik yaitu Pa’pompang, pa’Barrung, Pa’pelle’. Musik dan seni tari yang ditampilkan pada upacara Rambu Solo’ tidak boleh (tabu) ditampilkan pada upacara Rambu Tuka’.
Pemakaman
Peti mati yang digunakan dalam pemakaman dipahat menyerupai hewan (Erong). Adat masyarakat Toraja adalah menyimpan jenazah pada tebing/liang gua, atau dibuatkan sebuah rumah (Pa’tane).
Beberapa kawasan pemakaman yang saat ini telah menjadi obyek wisata, seperti di :
Londa, yang merupakan suatu pemakaman purbakala yang berada dalam sebuah gua, dapat dijumpai puluhan erong yang berderet dalam bebatuan yang telah dilubangi, tengkorak berserak di sisi batu menandakan petinya telah rusak akibat di makan usia.
Lemo adalah salah satu kuburan leluhur Toraja, yang merupakan kuburan alam yang dipahat pada abad XVI atau setempat disebut dengan Liang Paa’. Jumlah liang batu kuno ada 75 buah dan tau-tau yang tegak berdiri sejumlah 40 buah sebagai lambang-lambang prestise, status, peran dan kedudukan para bangsawan di Desa Lemo. Diberi nama Lemo oleh karena model liang batu ini ada yang menyerupai jeruk bundar dan berbintik-bintik.
Tampang Allo yang merupakan sebuah kuburan goa alam yang terletak di Kelurahan Sangalla’ dan berisikan puluhan Erong, puluhan Tau-tau dan ratusan tengkorak serta tulang belulang manusia. Pada sekitar abad XVI oleh penguasa Sangalla’ dalam hal ini Sang Puang Manturino bersama istrinya Rangga Bualaan memilih goa Tampang Allo sebagai tempat pemakamannya kelak jika mereka meninggal dunia, sebagai perwujudan dari janji dan sumpah suami istri yakni “sehidup semati satu kubur kita berdua”. Goa Tampang Alllo berjarak 19 km dari Rantepao dan 12 km dari Makale.
Liang Tondon lokasi tempat pemakaman para Ningrat atau para bangsawan di wilayah Balusu disemayamkan yang terdiri dari 12 liang.
To’Doyan adalah pohon besar yang digunakan sebagai makam bayi (anak yang belum tumbuh giginya). Pohon ini secara alamiah memberi akar-akar tunggang yang secara teratur tumbuh membentuk rongga-rongga. Rongga inilah yang digunakan sebagai tempat menyimpan mayat bayi.
Patane Pong Massangka (kuburan dari kayu berbentuk rumah Toraja) yang dibangun pada tahun 1930 untuk seorang janda bernama Palindatu yang meninggal dunia pada tahun 1920 dan diupacarakan secara adat Toraja tertinggi yang disebut Rapasan Sapu Randanan. Pong Massangka diberi gelar Ne’Babu’ disemayamkan dalam Patane ini. tau-taunya yang terbuat dari batu yang dipahat . Jaraknya 9 km dari Rantepao arah utara.
Ta’pan Langkan yang berarti istana burung elang. Dalam abad XVII Ta’pan Langkan digunakan sebagai makam oleh 5 rumpun suku Toraja antara lain Pasang dan Belolangi’. Makam purbakala ini terletak di desa Rinding Batu dan memiliki sekian banyak tau-tau sebagai lambang prestise dan kejayaan masa lalu para bangsawan Toraja di Desa Rinding Batut. Dalam adat masyarakat Toraja, setiap rumpun mempunyai dua jenis tongkonan tang merambu untuk manusia yang telah meninggal. Ta’pan Langkan termasuk kategori tongkonan tang merambu yang jaraknya 1,5 km dari poros jalan Makale-Rantepao dan juga dilengkapi dengan panorama alam yang mempesona.
Sipore’ yang artinya “bertemu” adalah salah satu tempat pekuburan yang merupakan situs purbakala, dimana masyarakat membuat liang kubur dengan cara digantung pada tebing atau batu cadas. Lokasinya 2 km dari poros jalan Makale-Rantepao.
Tempat upacara pemakaman adat
Rante yaitu tempat upacara pemakaman secara adat yang dilengkapi dengan 100 buah menhir/megalit yang dalam Bahasa toraja disebut Simbuang Batu. 102 bilah batu menhir yang berdiri dengan megah terdiri dari 24 buah ukuran besar, 24 buah ukuran sedang dan 54 buah ukuran kecil. Ukuran menhir ini mempunyai nilai adat yang sama, perbedaan tersebut hanyalah faktor perbedaan situasi dan kondisi pada saat pembuatan/pengambilan batu.
Megalit/Simbuang Batu hanya diadakan bila pemuka masyarakat yang meninggal dunia dan upacaranya diadakan dalam tingkat Rapasan Sapurandanan (kerbau yang dipotong sekurang-kurangnya 24 ekor).
Tau-tau
Tau-tau adalah patung yang menggambarkan almarhum. Pada pemakaman golonganbangsawan atau penguasa/pemimpin masyarakat salah satu unsur Rapasan (pelengkap upacara acara adat), ialah pembuatann Tau-tau. Tau-tau dibuat dari kayunangka yang kuat dan pada saat penebangannya dilakukan secara adat. Mata dari Tau-tau terbuat dari tulang dan tanduk kerbau. Pada jaman dahulu kala, Tau-tau dipahat tidak persis menggambarkan roman muka almarhum namun akhir-akhir ini keahlian pengrajin pahat semakin berkembang hingga mampu membuat persis roman muka almarhum.
4.Rumah adat
Sudah pernah mendengar mengenai Tongkonan? Tongkonan adalah rumah adat suku Toraja,salah satu suku yang ada di Sulawesi Selatan. Di tempat inilah masalah-masalah yang berhubungan dengan adat dibicarakan oleh para kaum bangsawan Toraja. Tetapi yang membuat "rumah" ini istimewa adalah bentuk atapnya yang mirip dengan perahu terbalik dan menurut legenda atap itu memang perahu terbalik! Konon kedatangan mereka dari lautan utara disebabkan karena kapal mereka rusak setelah terkena badai lautan, mereka terdampar dan akhirnya membangun rumah dengan atap yang berasal dari kapal yang rusak itu. Unik ya... Nah,coba deh perhatikan gambar Tongkonan,sangat berciri khas,penuh dengan ukiran kayu yang sarat dengan makna.
Uniknya Tongkonan memberi kami inspirasi untuk membuat motif Tongkonan diatas selembar kain batik sutera ATBM KCS yang dirancang untuk pembuatan kemeja pria dan sarimbit. Masing-masing modifikasi motif ini hanya ada satu lembar (untuk kemeja pria) dan satu set (untuk sarimbit), tidak mempunyai kembaran motif yang sama dan tentunya dengan proses batik tulis.
5.daerah yang meliputi toraja
Suku Toraja mendiami daerah Toraja yang terdiri dari Makale dan Rantepao. Suku Toraja memakai bahasa Toraja dan kebanyakan penduduknya beragama Nasrani.

sumber: http://green-star84.blogspot.com/2012/09/suku-di-sulawesi-selatan.html

Melihat Kampung Adat Kajang Amma Toa Sulawesi Selatan

Melihat Kampung Adat Kajang Amma Toa Sulawesi Selatan


kampung-adat-kajang-ama-toa-infobackpacker
Masyarakat adat Kajang AmmaToa merupakan salah satu suku tertua yang sangat terkenal di Sulawesi selatan. Budaya dan kehidupan sosial masyarakatnya yang unik menjadi daya tarik bagi para wisatawan mancanegara yang membanjiri daerah ini setiap tahunya.
Kajang terbagi menjadi dua wilayah, kajang dalam dan kajang luar. Wilayah kajang luar merupakan wilayah yang menerima modernisasi, sedangkan wilayah kajang dalam merupakan wilayah adat yang mempertahankan tradisi dan menolak modernisasi.
Gaya hidup yang bersandar pada petuah dan ajaran-ajaran leluhur sebagai pandangan hidup masih dipegang teguh sampai sekarang . Berpakaian hitam-hitam dilengkapi penutup kepala yang juga berwarna hitam atau biasa disebut pasappu dalam bahasa setempat, dan sarung berwarna hitam atau disebut Tope lelleng Komunitas adat yang bisa di jumpai di kabupaten Bulukumba sekitar 190 km dari Makassar ibu kota Sulawesi Selatan ini di pimpin oleh seorang tetua terpilih dengan sebutan AmmaToa yang dibantu oleh 26 pemangku adat atau disebut Galla (mentri) yang memiliki tugas masing-masing.
Saat ini Kajang di pimpin oleh AmmaToa yang ke 22 yang bertanggung jawab penuh menjaga adat dan tradisi bisa berjalan selaras dengan alam. Selain itu AmmaToa juga bertindak sebagai pemimpin spiritualis tertinggi. Kami pun sempat berbincang dengan pemimpin yang murah senyum dan berwibawah ini, beliau menjelaskan tentang bagaimana menyelesaikan perselisihan dan semua hal aspek kehidupan melalui musyawarah di rumah besar. Tentu saja menggunakan bahasa Konjo melalui perantara Galla (Mentri) yang memang bertugas menyambut dan menemani tamu.
Baca selengkapnya di Majalah Digital Info-Backpacker Edisi 11.

sumber:  http://infobackpacker.com/melihat-kampung-adat-kajang-amma-toa-sulawesi-selatan.htm

penjelasan dan gambar alat musik tradisional sulawesi selatan

penjelasan dan gambar alat musik tradisional sulawesi selatan


Alat Musik Panting Dari Banjarmasin

4877269543_acf949c4b0_mIrama khas yang di hadirkan, adalah perpaduan apik antara berbagai alat musik seperti Biola, Panting dan juga Gong. Untuk alat musik Panting, alat musik ini hampir mirip dengan alat musik gambus yang berasal dari Arab. Sama seperti gitar, memainkan alat musik Panting juga harus di petik. Alat Musik Panting biasa di hadirkan dalam acara-acara seperti mengiri tarian tradisional. alat musik sumatera utara dan penjelasannya (24), alat musik nusantar…

Balikpapan, Informasi Kota Wisata Hotel Hiburan Bisnis

balikpapan03a Balikpapan menjadi kota favorit di Indonesia dan akan dibandingkan dengan kota-kota lainnya di seluruh penjuru Nusantara pengertian kerajinan kulit (28), kliping kerajinan kulit (12), Video Gadis Suku Dayak tempo dulu (10), gambar seni kriya terapan dari daerah nias beserta penjelasannya (10), gambar dan keterangan otonomi daerah (10), gambar tarian khas suku dayak (8), seni kerajinan kulit (8), penjelasan tentang kerajinan kulit (8), pengertia…

Bungalow Bara Beach Di Sulawesi

Bara Beach Bungalows Sulawesi  3Bara Beach Bungalows Lokasi terletak di Bulu kumba, Sulawesi. Bungalow Bara Beach menawarkan anda untuk menjelajahi beberapa tempat menarik seperti pantai Losari, Taman laut Nasional Bunaken dan benteng Rotterdam. Kamar bungalow deluxe yang dibangun bergaya Eropa berdinding batu dilengkapi dengan kamar mandi serta bungalow exotic yang dibangun dari bambu. Restoran menyediakan jus dan kopi untuk menu di pagi hari, menu masakan khas Indonesia dan

Ue Datu Cottages Sulawesi

gambarcotteges yang indah ini dikelilingi oleh air….

Kesenian-Kesenian Kota Jakarta

kromong-194x300ayu. Lagu-lagu yang biasa di bawakan biasanya lagu-lagu yang bersifat jadul(jaman dulu) seperti lagu Burung Putih, Pulo angsa Dua dan sirih Kuning. Orkes Samrahh banyak berkembang di daerah Tenabang, dimana gerakan dasar tari tradisional gambar (4), makalah kesenian tradisional betawi (4), masakan betawi wikipedia (4), masakan khas betawi dan keterangannya (4), rumah betawi modern (4), harga baju tari betawi (4), toko baju tari (4), topeng betawi…

Peta Sulawesi – Map Of Sulawesi

sulawesi3Peta Sulawesi Gunakan fasilitas peta Sulawesi ini untuk mengetahui dan juga mendapatkan informasi lengkap tentang jalan-jalan di kota Sulawesi, informasi lokasi hotel, peta sekolahan, lokasi pusat perbelanjaan, restoran, rumah sakit, dan tempat-tempat penting di Sulawesi yang ingin anda kunjungi. Peta Sulawesi atau Map of Sulawesi mengadopsi teknologi dari perpaduan antara Google Map dan Wikimapia sehingga tidak hanya memanfaatkan tetapi anda ju…

Saluang Alat Musik Minangkabau

3965675364_07c6a16e40_mSaluang adalah alat musik tiup yang lahir di daerah Minangkabau. Terbuat dari pohon bambu pilihan, ukurannya kira-kira 2-3 cm dengan panjang kurang lebih 90 cm. Bentuknya serupa dengan seruling atau alat musik flute, hanya saja pangkal potongan pohon bambu ini tidak ditutup seperti flute atau seruling. kegunaan saluang (10), makalah tentang saluang (4), keterangan flute (4), pengertian dan nilai-nilai saluang saluang (2), model taman di pesisr p…

Dol – Alat Musik Kota Bengkulu

Musik Enggano dan Musik Dol di BengkuluDol merupakan alat musik traditional Provinsi Bengkulu yang dimainkan dengan cara dipukul. Dol sendiri terdiri dari tiga bagian yaitu Dol Besar, Tasa dan tom-tom. Dol terbuat dari bongol buah kelapa atau pohon nangka. Alat musik Dol biasanya dimainkan setahun sekali pada perayaan mengenang cucu Nabi Muhammad SAW di Padang Karbala Husin bin Ali Abu Thalib. kesenian tradisional kalimantan selatan (4), cara pembuatan kriya dari cd (2)…

Pasir Putih Yang Indah Di Pantai Tanjung Bira

biramacam-macam alat musik khasdaerah tanjung pinang (4)…

Kolintang, Alat Musik Tradisional Sulawesi Utara

Kolintang memiliki hubungan erat dengan kepercayaan tradisional penduduk asli Sulawesi Utara dan sebagai tradisi budaya biasanya dimainkan untuk ritual menyembah nenek moyangKolintang memiliki hubungan erat dengan kepercayaan tradisional penduduk asli Sulawesi Utara dan sebagai tradisi budaya biasanya dimainkan untuk ritual menyembah nenek moyang Jika anda pernah melakukan perjalanan ke Sulawesi, pasti anda pernah melihat jenis alat musik yang bernama Kolintang. Kolintang berasal dari budaya Minahasa, sebuah kabupaten di Sulawesi Utara. Alat musik ini mirip dengan gambang kayu. Berdasarkan satu versi cerita rakyat s…